Senin, 22 Oktober 2012
Kasih Yang Terbesar
Tiba-tiba, kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh di atas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental ke seluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka.
Ada seorang gadis kecil yang terluka di bagian kaki oleh kepingan seng tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring di atas puing-puing ketika ditemukan, P3K segera dilakukan dan seseorang dikirim dengan segera ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.
Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada orang yang memiliki golongan darah yang sama. Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu.
Kemudian beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada grup itu dan perawat menerjemahkan, "Apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk gadis kecil ini?" Anak-anak tersebut tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, "Tolong, apakah ada di antara kalian yang bersedia memberikan darahnya utk teman kalian, karena jika tidak, ia akan meninggal!"
Akhirnya, ada seorang bocah laki-laki di belakang mengangkat tangannya dan perawat membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah.
Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah. "Tenang saja," kata perawat itu, "Tidak akan sakit kok." Lalu dokter mulai memasukan jarum, ia mulai menangis. "Apakah sakit?" tanya dokter itu. Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. "Aku telah menyakiti bocah ini!" kata dokter itu dalam hati dan mencoba untuk meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya.
Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu. "Apakah sakit?"
Bocah itu menjawab, "Tidak, tidak sakit."
"Lalu kenapa kamu menangis?", tanya dokter itu.
"Karena aku sangat takut untuk meninggal" jawab bocah itu.
Dokter itu tercengang! "Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?"
Dengan air mata di pipinya, bocah itu menjawab, "Karena aku kira untuk menyelamatkan gadis itu aku harus menyerahkan seluruh darahku!"
Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian ia bertanya, "Tetapi jika kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu?"
Sambil menangis ia berkata, "Karena ia adalah temanku, dan aku mengasihinya!"
Cinta Kasih Sejati
Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya
Si Perawat merasa kasihan, jadi ketika sedang luang dia sempatkan utk memeriksa luka si kakek, & nampaknya cukup baik & kering, tinggal membuka jahitan & memasang perban baru. Pekerjaan yg tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, diputuskan boleh dilakukan oleh si perawat.
Sambil menangani lukanya, si Perawat bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hanya mesti ke rmh jompo utk makan siang bersama istrinya, spt yg biasa dilakukannya sehari-hari.
Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu & istrinya mengidap penyakit ALZHEIMER.
Lalu si Perawat bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat? Si Kakek menjawab bhw istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir.
Mendengar hal itu si Perawat sangat terkejut & berkata: Bapak masih pergi ke sana setiap hari selama 5 tahun walaupun istri Bapak tidak bisa mengenali bapak lagi?
Si kakek tersenyum sambil tangannya menepuk tangan si Perawat & berkata: "Dia memang sudah tidak bisa mengenali saya lagi, tetapi saya kan masih bisa mengenali dia, kan?"
Kontan saja si Perawat menjadi terharu dan terus menahan air mata sampai kakek itu pergi.
Kamis, 11 Oktober 2012
Arti Kesetiaan
————————————————————————————————–
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.
Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.
Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari, ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak-anaknya: “Anak-anakku… Jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.”
“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”
Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.
Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita..” Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”.
Selasa, 03 April 2012
Latest news
Komunitas Jazz
The Dozens: 12 Essential Max Roach Recordings
Selected by Nasheet Waits
Max Roach did more than anyone to bring jazz drumming into the modern age. In the course of a career that spanned seven decades, he put his stamp on everything from bebop to hip-hop, constantly reinventing his musical persona. In this installment of Guest Artist Dozens, edited by Ted Panken another master drummer, Nasheet Waits, surveys Roach's career and highlights 12 essential tracks.
Read More The Dozens: Twelve Jazz
Perspectives On Björk
Hailing from Reykjavik, Iceland, Björk burst onto the music scene in 1993 with Debut, an album featuring the jazz standard “Like Someone in Love.” Since then, this global star has maintained ties with the jazz world, even earning her biggest hit with “It’s Oh So Quiet,” a swing number dating back to 1948. Jazz artists have returned the respect, covering versions of Björk songs. Brad Farberman highlight 12 worthy renditions in this installment of the Dozens.
Read MoreThe Dozens: Trombone
12 Classic Performances
Back in New Orleans, long before the saxophonists or guitarists showed up in jazz, the trombonists were making their elongated presence felt on the scene. And they're still going strong a century later. Alex W. Rodriguez, resident bone-ology specialist at jazz.com, highlights 12 classic trombone tracks in this installment of the Dozens.
Read MoreInterview: Sonny Rollins
No living artist has done more than Sonny Rollins to define the role of the tenor sax in jazz. He is an iconic figure, a founding father of modern jazz still active and playing at top form in his late 70s. Jazz.com's Stuart Nicholson talks with Rollins in a free-wheeling interview.
Read MoreJazz.com Blog Highlights
Below are links to some of the highlights from the jazz.com blog.

Life on the Road: The Journal of a Traveling Jazz Musician: Frøy Aagre’s three-part article may be the most insightful account you will ever read about the realities of road life for most jazz musicians. It is not a pretty picture, but it was a story that very much needed to be told.
Jazz and Hip-Hop: Can They Really Mix? Jared Pauley presented a smart mini-history of the courtship between jazz and hip-hop in this two-part article. And he also stirred up a mini-war on our blog pages. Alan Kurtz stepped in to annul this unholy union, responding with his typical rebarbative repartee in a memorable piece entitled Hip-Hop is to Jazz as Termitz R2 Wud. Both articles are well worth reading.
Life at Gypsy Jazz Camp: One of the most interesting developments in the jazz world is the great resurgence of interest in Django Reinhardt and Gypsy jazz. Bill Barnes took us into the heart of this subculture in his three-part article on his experiences at a jazz camp devoted to jazz Manouche.
A Jazz Success Story in Vermont: In a series of articles for jazz.com, Willard Jenkins presented case studies on the people and organizations that are keeping the music alive in various communities around the United States. In this installment, Jenkins explored a jazz success story in Burlington Vermont , and talked with Arnie Malina, the man behind it.
Ornette: The Blue Note Years: In this two-part article, Chris Kelsey looked at a controversial period in Ornette Coleman’s career. Blue Note’s move into the avant-garde was a symbolic moment, and produced music that critics are still debating almost a half-century later.
On Discography: If the jazz world is a subculture, then the most cultish members of all are the jazz discographers. Will Friedwald peers inside the universe of the experts who keep tabs on all of the songs.
Where Copyright Goes Wrong: Jazz.com’s Alan Kurtz is best known for his curmudgeonly critiques and the controversies these engender. But he could have been a lawyer (or at least played one on TV) judging by this convincing assault on the current state of US copyright law.
The Once and Future Strings:When electric guitar first showed up in the jazz world, most fans treated it as a novelty effect. But after the impact of Chicago blues, rock-and-roll and other related styles, the plugged-in guitar has become the defining sound of contemporary music. Bill Barnes looks at the state of the guitar in jazz. This three-part article offers historical perspective on the current situation, and assesses the future potential for this instrument.
The Secret Jazz Festivals: These private events allow a small group of insiders to hear a range of up-and-coming artists. Casual fans are not invited, but concert promoters, booking agents and critics get a glimpse of the new generation of talent. But here's the catch: you won't find them in the US. Thierry Quénum, a leading jazz critic based in Paris, offers an inside look.



